PT ACE
Hardware Indonesia Tbk.
(ACES IJ Equity)
(ACES IJ Equity)
Jika kita ingin mencari peralatan rumah tangga, pasti kita akan mengenal yang namanya ACE Hardware. Yap, ACE Hardware adalah salah satu perusahaan ritel modern ternama di Indonesia yang bergerak di bidang home improvement dan lifestyle. Hingga kini sudah lebih dari 100 gerainya tersebar diseluruh Indonesia. ACE Hardware memiliki target pasar kelas menengah masyarakat indonesia. Kali ini Sherstock Holmes akan membahas tentang PT ACE Hardware Indonesia Tbk.
Pertama,
mari kita lihat dari hasil kinerja ACES. Pada kuartal satu 2017, ACES berhasil
mencatatkan kenaikan laba bersih sebesar 11% YoY menjadi 154 triliun.
Pencapaian tersebut sesuai dengan estimasi beberapa sekuritas seperti Samuel
dan Mirae Asset. Jika dilihat dari laporan keuangan yang telah dirilis oleh
perusahaan, kenaiakan laba bersih didorong oleh adanya penurunan beban keuangan
dan beban pokok penjualan, serta kenaikan pada level top line. Selain itu, pertumbuhan laba juga didorong oleh ekspansi
yang dilakukan oleh pihak manajemen dengan membuka dua gerai baru pada kuartal
pertama tahun ini, yakni di Karang Mulya Tangerang dan Metro Indah Mall
Bandung.
Menurut
Marlene sebagai salah satu analis Samuel Sekuritas, ketepatan perusahaan dalam
memilih target konsumen kelas menengah ke atas menjadi kunci terhadap
resiliensi pertumbuhan penjualan. Sementara itu, penjualan secara QoQ turun 7%,
dan masih sesuai dengan estimasi Marlene mengingat faktor seasonal, di mana pada umumnya perusahaan pada sektor ritel
mencatatkan penjualan terendah pada kuartal pertama setiap tahunnya.
Menurut Christine sebagai salah satu
analis Mirae Asset Sekuritas, pertumbuhan laba yang dicapai ACES juga
dipengaruhi oleh “boom sale” yang dilakukan ACES pada bulan Maret – pertengahan
April 2017. Hal tersebut terlihat dari SSSG (same-store sales growth) ACES yang mencapai angka double digit di bulan April 2017
(14,1%). Meski di bulan Mei SSSG ACES sedikit menurun pertumbuhannya (10,7%),
Christine berpendapat bahwa di tahun 2017 masih akan terjadi pemulihan daya
beli konsumen di sektor ini. Menurutnya, kinerja yang stabil dari nilai tukar
rupiah terhadap USD juga mendukung pemulihan kuat ACES, ditambah lagi dengan
ekpektasi perolehan laba yang lebih tinggi pasca hari raya Idul Fitri dimana
daya beli konsumen relatif meningkat seiring dengan adanya tunjangan hari
raya/THR.
Sekarang mari kita lihar dari sisi
teknikal. Menurut Indo Premier Sekuritas Research, Candle ACES ditutup diatas
EMA (exponential moving average) 5,10
dan membentuk pola long white marubozu
yang merupakan sinyal bullish
continuation, stochastic netral
dan MACD (moving average
convergence/divergence) positif. Target kenaikan harga berada pada level
1.020 kemudian 1.040.
Karena dari awal kita telah membahas
tentang pengamatan yang dilakukan oleh dua analis, mari kita bahas tentang
rekomendasi yang mereka berikan. Christine memberikan rekomendasi “Buy” untuk
saham ACES yang didorong oleh stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dollar
Amerika, S&P upgrade, dan stabilitas persediaan yang sudah mulai terlihat.
Christine juga menyatakan bahwa akan ada pendorong kuat kenaikan laba bagi ACES
pada 2H (second half) 2017 dimana
akan ada “boom sale” kembali pada
periode bukan September-Oktober. Christine juga menaikkan estimasi SSSG dari
2,5% menjadi 4%.
Rekomendasi yang berbeda muncul dari
Marlene. Ia memberikan rekomendasi “Hold” untuk ACES. Menurutnya, sektor
properti yang menjadi pendorong bagi bisnis ACES belum sepenuhnya pulih serta
kurangnya strategi dan inovasi baru bagi pihak manajemen, serta valuasi yang
sudah relatif fair.
Bicara
tentang sektor properti, Sherstock Holmes jadi tertarik untuk mencari info
lebih dalam lagi tentang hal tersebut. Bersumber dari Market Bisnis, KGI
Sekuritas Indonesia memperikaran sektor properti dan konstruksi akan menguat di
tahun 2017. Menurut Yuganur Wijanarko dalam risetnya, sektor properti dan
konstruksi akan bangkit di tahun 2017. Sebagaimana kita ketahui bahwa di tahun
2016, kedua sektor tersebut relatif tertinggal. Ia mengatakan bahwa risiko
penurunan sektor saham konstruksi dan properti semakin terbatas.
Analis
NH Korindo Securities, Bima Setiaji juga menyatakan bahwa penjualan semen yang
melonjak di bulan Maret 2017 menjadi sinyal positif akan adanya peningkatan
penjualan untuk properti perumahan. Bima juga menambahkan bahwa sentimen
positif lainnya datang dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat
(PUPERA) yang mendapatkan anggaran terbesar di tahun 2018 sebesar Rp. 106,9
triliun, atau naik 5,3% YoY. Hal ini juga terlihat dari niat pemerintah untuk
tidak menunda proyek infrastruktur penting, sehingga menjadi katalis kenaikan
saham sektor konstruksi. Selain itu, survei kegiatan dunia usaha yang dilakukan
oleh BI menunjukkan bahwa terdapat peningkatan pada kuartal I 2017 menjadi 4,8%
dari sebelumnya 3,13%.
Nah,
begitulah hasil yang Holmes dapat dari kepo-in informasi tentang ACES dan
sektor properti. Kalau menurut Holmes, ACES bisa jadi pilihan untuk investasi
kita. Terlebih jika kita lihat kinerja di kuartal I ini cukup baik dan ada
katalis dari sektor properti yang sepertinya akan bangun dari tidurnya. Untuk
para Stocker (julukan bagi para pembaca Sherstock Holmes) boleh nih untuk mulai
kumpulan lembar saham dari ACES untuk investasi masa depan. Next post, coba
akan Holmes perdalam lagi ya.
Note: Penulis masih dalam tahap belajar, mohon
maklumi apabila terdapat banyak kekeliruan dalam beranggapan atau secara
penulisan. Semoga post selanjutnya dapat lebih baik lagi. Kritik dan saran
sangat dinantikan, untuk repon yang lebih baik lagi silahkan kirim email ke
sherstockh@gmail.com.
Sumber:
Pasardana.id
Sumber:
Pasardana.id
Market.bisnis.com
Indo Premier Securities News & Research
Samuel Securities Research
Mirae Asset Sekuritas Riset



Tidak ada komentar:
Posting Komentar