Indra
ku terganggu dikala terdengar suara dari dapur rumahku. Aku pun terbangun pertanda kehidupan pada hari ini harus segera ku mulai. Suara itu berasal dari
ibu ku yang sedang menyiapkan makanan tepat pukul empat pagi. Dengan raga yang
belum seirama dengan jiwa, kulangkahkan kaki ku ke kamar mandi yang berada
dekat dengan dapur rumah. Wajar bila suara ibu yang sedang memasak didapur
terdengar oleh ku yang sedang tertidur dikamar, rumah kami bertipe 36 dengan
dua kamar tidur, satu ruang tamu, dapur, dan satu kamar mandi. Tapi, aku
bersyukur kepada tuhan, mungkin ini caranya untuk menjaga kedekatan keluarga
kami. Tak besar, tapi saling terhubung.
Dinginnya
air pukul empat pagi yang kusuka, membuat raga dan jiwa menjadi sadar seutuhnya.
Memberikan kesegaran yang memotivasi diri untuk menjalankan aktivitas hari ini
dengan semangat. Keluar dari kamar mandi, adik perempuan ku sudah menanti
gilirannya didepan pintu kamar mandi dengan wajah setengah sadarnya. Sebelum
kubiarkan ia masuk ke kamar mandi, ku cubit pipi nya yang bulat itu seraya
berkata “haayo bangun dulu, baru mandi” yang kemudian dibalas spotan oleh nya
“ah bang, iseng deh!” sambil menunjukkan wajah cemberutnya. Memang suka usil
diri ini, tapi aku suka melakukannya, melihat adik perempuanku tumbuh begitu
cepat yang kini sudah mengenakan seragam abu-abu.
Aku
pun segera berganti pakaian, kuambil kain sarung, baju koko dan kopiah warna
hitamku. Setelahnya ku segera menuju ke ruang tamu. Sofa dan meja yang ada
disana ku geser agar berdekatan sehingga ada ruang yang cukup untuk aku bentangkan
tiga sajadah untuk sholat subuh kami. Setelah berusaha untuk menciptakan ruang
yang cukup untuk sholat kami, kumandang adzan subuh pun terdengar, meski tidak
begitu jelas tapi jarum di jam dinding rumah sudah membuatku sangat yakin ini
lah waktunya. Wajar saja, mushola yang mengumandangkan adzan cukup jauh jaraknya dari rumah kami. Tak
lama setelah itu, ibuku dan adik ku keluar dari kamarnya dan sudah mengenakan
mukena, pertanda sholat berjamaah kami akan segera dimulai.
Dimana
Ayah?? Sedang berjuang membela negara sekaligus mencari nafkah untuk keluarga
kecilnya. Ayah ku adalah seorang tentara yang mendapatkan tugas dinas jauh
dari rumah. Biasanya ayah pulang setiap tiga bulan sekali, itulah saat kami bisa
melepas rindu padanya. Nasihat darinya tentang menjalani hidup adalah
salah satu yang aku suka ketika ayah berada di rumah. Sosoknya yang luar biasa membuat
kami yang berada dirumah selalu ingin dekat dengannya, tapi ayah selalu berkata
“jarak hanyalah sebuah angka yang mengukur ruang, dekatkanlah diri kalian dengan
ayah melalui doa yang seperti udara, selalu ada disekitar kalian”.
Ciuman
kening dari ibu menandakan sholat subuh berjamaah telah usai, cium kening adalah hal yang paling
aku sukai dari sholat berjamaah dengan ibu. Seperti rahmat semesta telah
diberikan kepadaku saat tulus dirinya mencium keningku. Adik dan ibu pun pergi ke dapur untuk mengambil makanan yang telah
dibuat oleh koki terhebat di rumahku. Aku pun bergegas melipat sajadah kami
agar kami bisa menikmati sarapan dengan cara lesehan. Kesederhanaan ini lah
yang aku selalu syukuri kepada Tuhan. Semoga Allah SWT, selalu menjaga keluarga
ini. Amiin.
Usai
sarapan, aku bergegas membantu ibuku membuka warung yang berada tepat didepan
rumah kami. Sudah genap dua tahun ibu membuka warung dan berjualan sembako
serta keperluan sehari-hari. Sementara itu, adikku menyiapkan dirinya untuk
berangkat sekolah. Setelah warung telah siap menerima pembeli, aku pun bergegas
berganti pakaian dan bersiap untuk bekerja. Aku yang hanya lulusan SMA tidak
bisa berharap banyak terkait mencari pekerjaaan. Saat ini aku bekerja di kebun
sawit milik orang Malaysia. Aku tinggal di perbatasan Indonesia dan Malaysia,
tepatnya di Desa Aji Kuning, Kecamatan Sebatik, Kabupaten Nunukan, Kalimantan
Utara. Mulai pukul tujuh hingga petang, ku habiskan waktu di kebun sawit. Tapi
aku selalu bersyukur atas pekerjaan ini, ayah pernah berkata, “apapun
pekerjaanya asalkan halal, maka kerjakanlah!, karena banyak di dunia ini yang
memiliki harta yang banyak dari hasil kerjanya tetapi hatinya dipenuhi kegelisahan, padahal hidup hanyalah sementara”. Nasihat itu selalu kuingat ketika diri
sedang lelah agar semangat terus terjaga hingga hari usai.
HIDUP DIANTARA DUA KEDAULATAN
Ditengah
pekerjaanku, aku mendengar seseorang memanggilku dari jauh, “Rendi, datang
kesini” aku pun menyautinya “Iya tuan”. Ia adalah bos ku di perkebunan kelapa
sawit ini, ia memanggilku untuk memberikan sebuah amplop putih. Ya, hari ini
adalah hari gajianku. Aku mendapat upah 1000 ringgit setiap bulannya dan aku
selalu bersyukur akan hal itu. Tinggal di perbatasan Indonesia dan Malaysia
membuat aku tidak asing dengan mata uang ringgit. Bahkan, tetangga-tetanggaku
di Sebatik lebih sering memiliki uang ringgit dibandingkan dengan rupiah. Wajar saja, itu karena
kebanyakan dari kami juga bekerja dengan orang Malaysia. Apalagi banyak
keperluan sehari-hari yang lebih lengkap di Malaysia, lebih tepatnya
di Tawau. Ibu ku pun berbelanja untuk keperluan warung nya di Tawau. Inilah
realita hidup di perbatasan.
Mungkin
keluargaku sedikit berbeda dengan orang-orang yang hidup di perbatasan. Sebab
kami memperlakukan RUPIAH dengan lebih istimewa. Selepas menerima upah kerja, ku
sempatkan diri ini untuk ke alun-alun kota Nunukan. Disanalah aku bisa
menukarkan uang ringgit yang kumiliki dengan RUPIAH. Aku rutin melakukannya
sebelum aku pulang ke rumah di hari gajian. Aku diajarkan oleh ayah tentang
mata uang Indonesia. Ayah selalu mengajarkanku untuk sebisa mungkin melakukan
transaksi jual beli menggunakan RUPIAH, sebab itulah bukti pengabdian kita
sebagai warga negara Indonesia.
Suatu hari, ayah pernah menasihatiku tentang
patriotisme.
“Ren, hingga saat ini, banyak
negara-negara yang belum merdeka dan masih terjajah. Maka dari itu, kita harus
bersyukur dengan apa yang kita miliki saat ini, yaitu Kemerdekaan”.
“iya, yah..” jawab ku dengan
penuh penasaran tentang apa yang sebenarnya ingin ayah sampaikan.
“Maka dari itu, kita harus
menjaga kemerdekaan ini dengan menanamkan jiwa patriot dalam diri” ungkap ayah
dengan tenangnya.
“maksudnya gimana yah?” tanya ku
penasaran.
“kita harus memiliki sikap
berani, pantang menyerah, dan rela berkorban demi bangsa dan negara” lanjut
ayahku.
“tapi yah, mungkin jika menjadi
tentara seperti ayah hal itu bisa dilakukan. Ayah bisa membela negara dengan
mengangkat senjata laras panjang ayah, tapi aku bagaimana. Aku bukan seorang
tentara” jawab ku.
Ayah pun tiba-tiba merogoh saku
celananya dan mengeluarkan selembar uang Rp. 50.000 dan berkata,
“kamu bisa membela negara mu
dengan ini” sambil menunjukkan selembar uang kepadaku.
“loh, kita bisa membela negara
dengan uang Rp. 50.000?” tanyaku dengan penuh kebingungan.
“bukan nominalnya Ren, kamu bisa
membela negaramu dengan RUPIAH” jawab ayah sambil tersenyum.
“aku tidak mengerti yah, bagaimana
caranya membela negara dengan RUPIAH?” tanyaku yang masih penuh dengan
kebingungan.
“Ren, biar ayah beritahu. Membela
negara tidak harus berperang dan mengangkat senjata. Membuat Indonesia bangga
pun sudah merupakan salah satu cara membela Indonesia tercinta” jawab ayahku
dengan jelas.
“Tapi yah, apa hubungannya dengan
mata uang kita?” tanyaku tambah penasaran.
“Kamu harus tau Ren, RUPIAH
merupakan salah satu lambang kedaulatan negara dan kebanggaan Indonesia,
sebagaimana diatur dalam UU. No. 7 tahun 2011 tentang Mata Uang” jawab ayah
sambil tersenyum.
“oooh, begitu ya yah..” jawab ku
yang mulai mengerti.
“Dengan mencintai RUPIAH melalui
kontribusi menggunakannya, maka kita sudah ikut membantu mengangkat dan
membanggakan nama Indonesia di mata dunia” sambung ayah.
“aku mengerti yah..” jawabku.
“Baiklah, mulai sekarang, cobalah
untuk menukar setiap uang ringgit dengan RUPIAH dan berbelanjalah dengan itu
agar kau bisa membuat negeri mu bangga” jawab ayah dengan penuh semangat.
“Siap yah!!” jawab ku dengan
tegas.
Sejak
saat itu, aku dan keluarga mulai memperlakukan RUPIAH secara lebih istimewa
lagi. Tidak hanya menggunakannya kita berbelanja saja tetapi juga dengan
menjaga RUPIAH itu sendiri dengan cara menjaga RUPIAH dalam kondisi baik, tidak
disteples, tidak dicoret-coret, tidak basah, dan tidak dilipat-lipat. Adik
perempuan ku pun melakukan hal yang sama. Ketika teman-teman SMA nya banyak
yang membawa uang jajan dalam mata uang ringgit, ia membawa uang jajan dalam
bentuk RUPIAH. Kerap kali ia juga mengajak teman-teman untuk mulai menggunakan
RUPIAH dalam kehidupan sehari-hari.
(sumber gambar: Bank Indonesia)
Lain
adikku, lain pula ibuku. Ibuku ini punya cara nya sendiri untuk mengajak orang
disekitarnya untuk menggunakan RUPIAH. Ia memberikan harga yang berbeda untuk
setiap dagangan yang dijual. Apabila seseorang membeli dagangan ibuku dengan
RUPIAH, maka ibu akan menjualnya lebih murah dibandingkan apabila membelinya
dengan ringgit. Pada mulanya banyak yang bertanya kepada ibuku, mengapa
dibedakan harga barang yang dibayar menggunakan RUPIAH atau ringgit. Tidak
hanya itu, ibuku juga selalu mengutamakan memberikan uang kembalian dalam
bentuk RUPIAH, dalih-dalih hanya memiliki stok uang ringgit yang terbatas,
ibuku pun memberikan RUPIAH sebagai kembalian untuk pelangganya yang berbelanja
menggunakan ringgit. Alhasil, perlahan-lahan langganan ibu mulai sering
menggunakan RUPIAH.
Meskipun
kami hidup diperbatasan, kami selalu bersyukur atas segala nikmat yang
diberikan oleh Allah SWT. Termasuk nikmat hidup merdeka, dan salah satu cara
untuk kami untuk menyukuri nikmat itu adalah dengan menggunakan RUPIAH sebagai
alat tukar sehari-hari. Aku berharap, di masa depan nanti akan tiba jiwa
patriot yang luar biasa dari setiap anak bangsa untuk bisa terus mengharumkan
nama bangsa ke seluruh penjuru dunia.
“Tak ada peruabahan yang datang
secara tiba-tiba, perubahan datang dari tindakan yang tulus dan dilakukan
secara berkelanjutan”


Tidak ada komentar:
Posting Komentar